Mensyukuri Nikmat Hidup

Manusia diciptakan Allah Swt. Dimuka bumi ini untuk menjadi khalifah. Khalifah bisa berarti wakil, pengganti, atau penguasa. Karena itu. Manusia dapat dikatakan sebagai �wakil� atau �pengganti� Allah untuk urusan di bumi. Ini adalah suatu kehormatan sampai-sampai para malaikat �mempertanyakan� hal ini Allah berfirman :
�Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah : 2 : 30).

Untuk menyandang predikat sebagai khalifah dan mengemban tugas mulia tersebut. Manusia dibekali dengan potensi akal atau nalar di samping wahyu atau kitab suci. Bekal yang pertama digunakan manusia untuk menganalisis fenomena alam sehingga menemukan hukum-hukum alam dan yang kedua sebagai petunjuk batin atau spiritual untuk menemukan dan memposisikan diri sebagai hamba yang sejati.

Ini adalah suatu nikmat yangtida terkira bagi kita umat manusia. Karena penciptaan kita dikhususkan oleh Allah Swt. Dan berbeda dengan makhluk lain yang diciptakan-Nya. Berbagai keistimewaan telah disandangkan kepada jenis ins atau manusia dari keturunan Adam alaihissalam. Mulai dari fisik yang sempurna keindahan dan struktur biologisnya sampai kepada aspek psikis atau spiritual yang memungkinkan kita untuk merasa dan berterima kasih kepada sang pencipta.

Dalam al-Qur�an, tidak jarang allah memuji manusia sebagai makhluk paling sempurna yang diciptakan-Nya. �Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya�.(QS. At-Tiin : 95 : 4-6).

Namun begitu. Dalam beberapa ayat lain, Allah juga menyebutkan kekurangan manusia. Manusia selalu lupa akan karunia Tuhan, aniaya terhadap diri sendiri, kikir, banyak membantah dan berkeluh kesah. Allah berfirman : �Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), (QS. Al-Ma�arij : 70 : 19-25). Dengan demikian, terdapat dua kemungkinan yang akan menimpa manusia berkaitan dengan statusnya sebagai makhluk istimewa. Ia dapat menjadi baik., bahkan sebagai makhluk yang paling baik di antara makhluk ciptaan Allah. Tetapi., ia juga dapat menjadi buruk, bahkan makhluk yang paling rendah derajatnya. Apakah ada pertentangan dalam dua statemen di atas : bahwa manusia adalah makhluk yang mulia dan manusia adalah hina? Tidak! Sebab memberi pengaruh baginya. Kedua unsure tersebut adalah unsure turab (debu tanah) sebagai bahan penciptaan fisik dan unsur ruh ilahi sebagai bahan penciptaan jiwa. Kedua unsure ini adalah bagian tak terpisahkan dalam wujud manusia.

Segala kelebihan dan keistimewaan yang ada dan diberikan kepada diri manusia bukannya tanpa suatu konsekwensi tanggung jawab yang setimpal. Bahkan, tanggung jawab yang diembannya jauh lebih berat dari seluruh makhluk. Manusia mewarisi alam semesta yang tiada terkira luasnya. Hamparan laut yang biru dengan segala kandungannya. Hutan-hutan lebat nan hijau, kandungan perut bumi serta materi-materi kosmos, semua itu baukan hanya untuk dinikmati dan dieksploitasi semata, akan tetapi harus dijaga dan dipelihara sehingga dapat bedaya guna seefektif dan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan kemanusiaan. Manusia terbatasi oleh hokum Tuhan, baik yang tersirat dalam bentuk hokum-hukum alam, maupun yang tersurat sebagai hokum-hukum syariat. Setiap pelanggaran yang dilakukannya akan mendapatkan ganjaran, baik berupa bencana alam sebagai efek ekploitasi yang berlebihan atas alam, ataupun azab akhirat atas kelallaian menjalankan syariat agama.

Manusia yang baik adalah yang dapat melaksanakan tugas kekhalifahan ini dengan sebaik-baiknya. Ia mampu melihat kondisi alam yang dihadapinya dan berbaut yang sesuai untuk kemaslahatan alam. Ia tidak merusak tetapi memperbaiki, tidak mengambil selain yang menjadi haknya dan peduli terhadap kekurangan dan penderitaan sesama manusia. Ia menyadari bahwa hidup dan kehidupan sebagai manusia adalah nikmat terbesar yang dianugrahkan Tuhan untuknya. Ia menyadari bahwa kehidupan dunia baginya adalah sementara saja. Sedangkan nan jauh disana membentang kehidupan akhirat yang lebih pasti. Lebih nikmat, dan lebih segalanya atas apa yang ad di dunia. Ia tidak terlena dengan segala kemewahan yang ada di kedua belah tangannya seperti yang disebut dalam al-Qur�an : �Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu [Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya Telah melalaikan kamu dari ketaatan.], Sampai kamu masuk ke dalam kubur.� (QS. Al-Takatsur : 102 : 1-2).

Kesadaran dan rasa terima kasih yang demikian besar atas karunia Tuhan adalah inti dari nilai kemanusiaan. Karena kesadaran inilah yang akan terus membimbing dan mengarahkan hidup untuk selalu berbuat baik, memperbaiki setia yang rusak dan memberi contoh teladan kepada saudara-saudaranya seketurunan dari Bani Adam. Jika ia bersalah . ia segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan itu sehingga terhapuslah kesalahannya.

Mulut dan lidah senantiasa basah oleh kata-kata yang lembut, penuh kasih, serta puji-pujian kepada Tuhan. Ia tidak menghina dan mencela, tapi menegur dengan amat lembut sehingga yang bersalah padanya segera menyadari kekeliruan tanpa harus tersinggung. Ia selalu bertindak dengan penuh perhitungan, mempertimbangkan segala aspek dan efek yang mungkin terjadi atas setiap keputusannya. Jujur dan adil, serta mampu memegang amanah. Ia dekat dengan ulama tetapi jauh dari sifat munafik. Inilah orang yang mensyukuri nikmat hidup yang dianugrahkan sang pencipta. Meski disadari bahwa nikmat ilahi ini tidak akan dapat dibalas oleh seorang anak manusia. Siapun dia karena nikmat Tuhan teramat luas dan tidak terhitung jumlahnya. Barakallah.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.